" melupakan" dan " mengikhlaskan " adalah dua kata yang
berbeda, namun sama-sama sulit kulakukan jika itu mengenai kamu.
Inilah hidup, akan banyak orang yang datang dan pergi,
tinggal dan singgah. Seperti kita yang berpisah saat belum saling
mengungkapkan perasaan.
Kamu tahu segalanya dari mataku, dari tindakanku, tapi
kamu memilih tak mengartikan segalanya terlalu jauh. Dan pada akhirnya,
aku yang berniat mengagumi dan memiliki mu akan tetap disalahkan, aku tak
terselamatkan.
Dulu...
Saat matanya dan mataku bertemu. Malaikat seperti menengahi kita.
Singkat, padat, jelas. Aku mencintaimu. Tapi, apapun butuh waktu, juga cinta. Biarkan cinta tumbuh karena keikhlasan, karena cinta itu sendiri bukan paksaan.
Saat matanya dan mataku bertemu. Malaikat seperti menengahi kita.
Singkat, padat, jelas. Aku mencintaimu. Tapi, apapun butuh waktu, juga cinta. Biarkan cinta tumbuh karena keikhlasan, karena cinta itu sendiri bukan paksaan.
Setiap mata berhak untuk menahan air mata, setiap hati
berhak untuk menahan sakit, dan menahan untuk tak mengungkapkan itu sakit.
Aku tak tahu kamu sedang mencintai dan merindukan
siapa, kamu juga tak tahu kalau aku mencintaimu dan merindukanmu. Kamu seperti
delusi yang begitu ku percayai. Padahal ku tau perasaan mu tapi aku tak ingin
percaya pada kenyataan. Bagaimana mungkin aku bisa merindukan seseorang yang
bahkan tak pernah mengingat ku.
Aku pun mengerti bahwa tidak semua kisah ditakdirkan
punya akhir yang indah. Sesederhana itulah pertemuan, serumit itulah
perpisahan, sesulit itulah melupakan.
![]() |
| Sesederhana itu ... |
.
.
