Ini sebenarnya adalah kisah disaat hati harus bertahan dengan kesakitan karena menolak hal yang seharusnya tak ditolak. Saat aku masih menjadi seorang remaja yang tak pernah mengenal cinta. 16 tahun, usia ku saat itu. Putih abu-abu, seragam yang menjadi pakaian ku sehari-hari. Gedung ini, cukup tua. Lihat saja cat nya yang meyelimuti, hampir usang termakan waktu. Tapi tidak untuk segala hal yang akan terjadi nanti. Aku.
Dia
mengenakan rompi itu, agak kasar wajahnya. Mungkin belagu lebih tepatnya. Siapa dia?. Dengan sombongnya berjalan ke
arah ku. Menatap ku tajam dengan penuh pengharapan. Tapi .. tunggu ! dia
tersenyum saat itu. Inikah pria yang ku benci saat ini. Entah, harus kumulai
dari bagian mana, agar kalian tau, bahwa dia adalah cinta pertama yang tak
pernah aku lupa.
Hampir
3 tahun hal itu berlalu. Hal dimana semua yang menjadi awal aku mencintainya.
Hal dimana saat benci merubahnya menjadi cinta. Hal dimana saat aku tak pernah
rela kehilangan dia.
Hal dimana saat aku menginginkannya kembali.
Kalian
tak pernah mengerti soal hati. Dia ada di sana, sedang mempersiapkan topi
toganya untuk menjadi seorang sarjana dalam bidang hukum.

0 komentar:
Posting Komentar